Dewasa kah kita…?

Sabtu pagi seperti biasa kegiatan rutin aku adalah  ngajak jagoanku yang baru 1 th  jalan-jalan… udah suatu kegiatan rutin dan anakku sudah hapal betul kegiatan ini..

Sedang asyik aku berjalan sambil sesekali mencandai anakku, aku melihat seorang anak yang berumur sekitar 3 atau 4 tahun dimarahi oleh ibunya..
Ibu itu membentak kadang-kadang juga sambil memukuli si anak.. Aku ga’ tau persis permasalahan atau kesalahan si anak,  yang sempat tertangkap oleh pendengaranku si ibu berkata “Kalo dibilangin kamu itu harus nurut, mesti ngerti omongan orang tua..” dan segala macam kata-kata yang menurutku tidak pantas di lakukan kepada anak-anak.

Aku cepat membawa anaku menjauh. Aku tak mau anakku menyaksikan hal yang menurutku ga baik, walaupun anakku mungkin belum mengerti.
Sambil berjalan aku sempat melamun dimanakah salahnya anak itu… bukankah dia sedang dalam masa mengenal lingkungan dan dirinya sendiri.

Coba kita ajukan beberapa pertanyaan pada hati kita seperti :
Kita selalu mengharapkan kehadiran seorang anak…, apakah anak itu minta dilahirkan?
Kita selalu berharap menjadi orang tua bagi anak kita.., apakah anak itu minta kita menjadi orangtuanya?
Kita berkata kepada anak untuk selalu nurut dan mengerti yang kita katakan…, sebenarnya siapa sih yang dewasa, bukankah ciri kedewasaan itu dapat memahami dan mengerti orang lain?

Ditambah lagi sikap-sikap yang kita lakukan :
Kadang kita mencap anak nakal… sebenarnya anak yang nakal atau kita yang terlalu egois,  selalu meminta anak menjadi apa yang kita inginkan… Bukankah dia juga punya dunianya sendiri..
Kadang jika seorang anak hanya mengerjakan sesuatu yang di perintahkan saja…kita tidak mengatakan bahwa kamu adalah anak yang baik dan penurut tetapi kita akan berkata “kamu tidak kreatif, ga punya ide..”  dan segala macam kritikan.
Susah yach jadi anak, kadang kasian mereka…

Ironis memang….Padahal kita pernah menjadi seorang anak dan pada saat itu di hati kita sering protes akan keadaan yang diterima tanpa bisa berbuat apa-apa… tapi setelah kita dewasa dan punya kesempatan untuk merubah itu semua, eh kita malah mengulangi kesalahan masa lalu bahkan tidak jarang lebih parah…

Sekedar Renungan bagi kita yang akan atau telah menjadi orang tua atau sebagai orang yang mengangap dirinya lebih dewasa dari sang Anak :

Jika Anak dibesarkan dengan Celaan, ia belajar Memaki

Jika Anak dibesarkan dengan Permusuhan, ia belajar Berkelahi

Jika Anak dibesarkan dengan Cemoohan, ia belajar Rendah diri

Jika Anak dibesarkan dengan Penghinaan, ia belajar Menyesali diri

Jika Anak dibesarkan dengan Toleransi, ia belajar Menahan diri

Jika Anak dibesarkan dengan Dorongan, ia belajar Percaya diri

Jika Anak dibesarkan dengan Pujian, ia belajar Menghargai

Jika Anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya Perlakuan, ia belajar Keadilan

Jika Anak dibesarkan dengan Rasa Aman, ia belajar Kepercayaan

Jika Anak dibesarkan dengan Dukungan, ia belajar Menyenangi dirinya

Jika Anak dibesarkan dengan Kasih Sayang & Persahabatan, ia belajar Menemukan Cinta dalam Kehidupannya

by:

Dorothy Law Nolte

Kita bisa memilih ingin menjadikan anak atau keponakan kita sendiri seperti apa..
Ingat !!! semua itu bisa terjadi tidak lepas dari apa yang telah kita berikan padanya?

Tinggalkan Balasan